Home > diskusi > Diskusi: Remaja dan Masyarakat Sunda

Diskusi: Remaja dan Masyarakat Sunda

Oleh Pa Wahyu, guru bahasa Sunda, anak-anak dibagi menjadi dua kelompok menurut barisan bangku. Setiap grup harus memilih, siapa yang ingin menjadi jurucatur (wakil) masing-masing grupnya. Grup pertama diwakili oleh jati asmara. Grup dua diwakili oleh Tatang Barmaya, grup tiga Nenden Kania, dan grup empat Dani Rinaldi.

Giliran yang pertama ke depan yaitu grup pertama. Topik diskusi yang dipilihnya adalah “Remaja sunda dan Seni Sunda”. Pa Wahyu tiba-tiba memuki terhadap topik tersebut. Bagus katanya. Pas dengan keadaan sekarang.

Jati Asmara : Kesenian Sunda terlalu monoton. Dari waktu ke waktu hanya begitu dan begitu saja. Tidak ada perubahannya. Kalaupun berubah, hanya formalitas saja. Berbeda dengan seni dari luar. Umumnya dinamis dan tidak ketinggalan jaman. Contonya wayang, calung, jeung Cianjuran. dari dulu sampai sekarang hampir tidak ada perubahan, Tak ayak jika kurang, atau malah tidak disukai oleh anak muda. Sedangkan jiwa anak muda selalu dinamis. Selalu suka terhadap barang baru. Suka terhadap perubahan.

Diskusi langsung hangat, sebab ada yang tidak setuju. Ya itu grup tiga. Mari kita simak.

Néndén Kania :       Menurut saya, apa sebabnya anak muda kurang menyukai kesenian Sunda, bukan karena kesenian sunda rata-tara monoton. Kurang ada perubahan. Atau tidak bisa mengikuti perkembangan jaman. Namun mereka tidak mengenal. Tidak tahu di mana letak keunggulannya kesenian sunda tersebut. Mau suka bagaimana, jika tahu saja tidak. Bukanya ada peribahasa yang mengatakan tak kenal maka tak sayang. Coba jika sudah kenal, pasti akan mengenal. Malah akan mencintai.

Jati Asmara :   Tetap saja selama kesenian sunda tidak ada perubahan, tidak bisa mengikuti perkembangan jaman, walau dijejali juga, tetap akan sulit untuk disukai. Terutama oleh anak muda, yang jiwanya masih dinamis.

Néndén Kania :       Disitu letaknya mungkin perbedaan cara berfikir Jati dan saya itu. Jikalau menurut saya, tidak akan disebut seni tradisional jikalau gampang berubah, karena mengikuti perkembangan jaman. Seperti seni cianjuran, tidak tahu bagaimana jadinya jika dipaksakan memeodernkan dirinya sendiri. Kacapi diganti oleh gitar, suling diganti denganoleh organ lagunya dangdutan. Tentu akan hilang keindahan dan keagunagnnya.

Tatang Barmaya:   Saya setuju terhadap pendapat Nenden. Seni Sunda, seni tradisional itu, tidak aharus mengikuti kesenian yang lain. Contohnya seni wayang. Jikalau terus-terusan harus mengikuti perkembangan jaman, lama-kelamaan apa bedanya dengan kesenian yang lain? Kalau mau dangdutan, mending menonton dangduran saja, jangan menonton wayang.

Jati Asmara :           Jikalau begitu, harus bagaimana caranya, agar orang sunda utamanya pada remaja suka terhadap kesenian Sunda.

Tatang Barmaya :    Sebagaimana yang disampaikan oleh saudara Nenden, harus terus-terusan diperkenalkan. Pengalaman saya, mengapa sukan menonton itu, karena oleh bapa sering diajak menonton pertunjukan wayang. Karena sering menonton, lama-kelamaan menjadi suka.

Dani Rinaldi :     Tapi tetap, para seniman Sunda, harus berani mengadakan perubahan. Seperti yang dilakukan oleh dalang Asep Sunandar Sundarya. Buktinya bisa mengikti perkembangan jaman dan begitu disukai.

Tatang Barmaya :     Tapi, apakah betul sukanya itu menonton seni wayangya, atau hanya lawakannya? Itu yang masih harus perlu diteliti.

Jati Asmara :     Buktinya karena bisa mengikuti perkembangan jaman, setiap dalang Asep mengadakan  pertunjukan, yang menonton itu selalu penuh.

Néndén Kania :     Jikalau ukurannya yang menonton, tontonan dangdutan atau band, yang menonton lebih banyak. Namun bukan itu saja fungsinya seni tradisi tersebut. Bukan hanya untuk hiburan. Dari mulai diciptakan memiliki tujan yang lebih luhung, yaitu mencari nilai kesuandaan.

Pa Wahyu :     Aduh ternyata semakin ramai yah. Namun sayang waktunya sudah habis. Jangan salah, diskusi ini belum selesai. Walaupun belum ada kesimpulan. Minggu depan kita lanjutkan.

Dani Rinaldi :     Iyah pak, grup saya belum mendapat giliran.

Categories: diskusi Tags: