Home > Kelas XI > Pangeran Kabayan

Pangeran Kabayan

February 20th, 2010 Leave a comment Go to comments

Carita ieu mangrupakeun tarjamahan tida carita Pangeran Kabayan (E. Koasmayadi (Ki Leuksa).

Bagi orang sunda, tidak ada yang asing dengan Si Kabayan Karena sangat banyak dongengnya yang disukai baik oleh orang tua maupun oleh anak-anak, malahan sudah dikenal oleh saudara lainnya yang berada di wilayah nusantara. Pokoknya sudah terkenal ke seluruh negeri.

Namun sayang yang terkenal itu sifatnya yang jelek, seperti malas, suka tidur, tebal kulit muka, senang bercanda, konyol, suka mengerjai mertuanya, berantem dengan istrinya, dan yang lainnya. Ditambah dengan penampilannya yang mendukung, pakaian alakadarnya, peci miring, koko kusam, diselendang sarung dan tidak suka memakai alas kaki. Bisa dibayangkan orang lain bagaimana potret sebenarnya dari Si Kabayan.

Ada beberapa saudara Ki Sunda dari provinsi lain yang memiliki anggapan bahwa jika ingin mengetahui sifat dari orang sunda, lihat saja Si Kabayan. Tidak akan jauh dari seperti itu.

Emh… jika benar begitu akan membuat iba.

Mungkin, dimengerti oleh orang lain sifat orang sunda itu sifat yang tidak beda jauh dengan Si Kabayan. Yang jelas sifat yang jelek semua. Jika begitu, ke mana sifat-sifat ki sunda yang luhung, bijaksana? Selain dari pada itu apakah betul sifat dari Si Kabayan seperti itu. Siapa sebenarnya Si Kabayan? Apakah bisa jika ki sunda mengubah sifat dari Si Kabayan? Agar serajat ki sunda naik lagi dan setara dengan bangsa-bangsa lain di nusantara.

Untuk membuka tabir, mungkin pertanyaan yang tadi terjawab, penulis pernah menemukan pendapat dari seorang tokoh. Katanya Si Kabayan itu bukan tokoh sunda yang fiktif, bukan pelampiasan sifat dan perilaku ki sunda yang tidak ingin diketahui oleh orang banyak. Namun seorang satria yang patut dipuji, yang memiliki keinginan ingin mengangkat harkat derajat masyarakat kecil agar tidak menjadi keset para penguasa yang zalim. Begini ceritanya.

Dahulu kala di tanah jawa ada sebuah kerajaan. Rajanya terkenal sangat serakah, kalau marah suka ringan tangan. Karena itu rakyat jadi sengsara, karena setiap waktu ditagih pajak dan masih banyak pungutannya, ditambah lagi dengan pekerjaan yang tidak ada selesainya.

Selain dari itu, kelakuan dari para pengagung Negara tidak ada yang benar, semuanya tertular ahlak raja yang serakah. Korupsi merajalela, kolusi sudah menjadi kebiasaan, nepotisme sudah mendarah daging. Kalau ada yang berpikir benar malah ada yang menyingkirkan atau dikicilkan tidak ada yang menemani. Akhirnya kelakuan para pengagung itu hampir sama mempunyai sifat  yang serakah, lupa terhadap jatidirinya, dalam menjalankan tugas tidak memikirkan batal haram, yang penting majikan saja sayang dan percaya terhadapnya. Soal kesejahteraan rakya itu urusan yang lain lagi.

Akibatnya, rakyat kecil berteriak, setiap waktu berteriak mencari penolong. Kalau pengagung pada tertawa gembira, banyak makanan, perut kenyang, pakaian bagus, setiap waktu memakai gelung. Satu orang saja tidak ada yang memikirkan, bagaimana caranya menanggulangi rakyat yang sengsara? Pelacuran, mabuk-mabukan, perjudian, yang kelapan dan penyakit sudah merajalela di mana-mana.

Diceritakan di kerajaan.

Raja mempunyai dua orang putra, namun tidak diceritakan negaranya. Yang paling besar sudah lama melihat keadaan yang memprihatinkan, hatinya tidak tenang melihat kelakuan para pengagung yang tidak sesuai dengan tugasnya. Namun ingin bicara tidak kuasa, karena semua harus menurut kepada Raja. Jikalau ada yang berani melawan alamat akan dihukum gantung. Si Cikal adiknya juga tidak berani berbicra karena takut akan menjadi ocehan yang nantinya akan terdengar oleh raja. Dia berfikir dalam hatinya bagaimana caranya agar bebas bercerita dan tidak diketahui oleh kerajaan. Karena ternyata di keraton setiap tingkah laku harus selalu mematuhi aturan, jika tidak begitu akan disebut tidak disiplin dan akan dikenakan sanksi.

Sesudah niatnya bulat Si Cikal berbisik kepada adiknya, katanya jikalau besok-besok orang tuanya turun tahta, dan tahta kerajaan diserahkan kepada putra mahkota, silakah terima oleh adik, akang akan mengembara. Cepatnya cerita, Si Cikal kemudian pergi meninggalkan keraton dan bergaul dengan masyarakat.

Diceritakan di pedesaan.

Termashur, ada seorang manusia yang sangat berani, sifatnya seperti bodoh tapi pintar, seperti pintar tapi bodoh. Berbicaranya lugas, sekali kali suka menyindir, tapi selalu mengena. Rasa sakit, pedih, dan cita-cita rakyat kecil terwakili oleh omongannya. Karena itu tidak heran jika sebentar saja sudah menjadi buah bibir, jadi bahan pembicaraan orang kampung.

Dalam menjalakan usahanya, utamanya ketika mengungkapkan kritik sosial, banyak sekali caranya. Bisa dengan cara sindiran, nyanyian, omongan, gerak, dan yang lainnya.

Contoh, ketika tetangganya punya hajat, yang diundang itu yang sederajat dengannya. Rakyat jelata tidak mendapatkan undangan. Orang itu tidak ragu-ragu tidak berpakaian sedikitpun dan mendekat ke rumah yang punya hajat. Melihat keadaan yang seperti itu yang punya hajat mengingatkannya katanya “Kabayan, kelakuan kamu itu seperti anak-anak saja? Tidak memiliki rasa malu.” Bagaimana jawab Si Kabayan “Ah kalau orang tua juga mungkin diondang.”

Nah yang seperti itu disebut unjuk rasa oleh gerak dan ucapan. Tujuannya untuk mengkritik yang punya hajat agar jangan memilih milah orang. Karena kaya dan miskin itu sama mahluk allah.

Kesimpulannya putra mahkota yang dahulu lolos dari keraton itu menjelma di masyarakat sunda, dijuluki Si Kabayan. Hakikatnya Si Kabayan itu pahlawan, sebab meskipun dia keturunan raja. Tapi ikhlas dan rido menjadi pengayom masyarakat, jadi lambing orang yang bodoh, malas, dan yang lainnya. Yang ditunjuk agar leluasa mengungkapkan isi hati mewakili orang banyak  yang sengsara agar bisa diketahui oleh semuannya.

Untuk Si Kabayan, berbicara dengan rakyat biasa, iah. Ngomong dengan orang kaya iah. Bahkan dia berani debat dengan jaksa atau hakim, karena mengerti kepada hukum dan aturan. Benar pula berbuat demikian karena banyak panggung yang ingin diagungkan sambil tidak mengerti terhadap hak dan kewajiban. Banyakannya memegang ilmu ABS (Asal Bapak Senang). Tidak apa melanggar agar terpakai oleh majikan. Akibatnya rakyat yang menjadi korban.

Kalau riwayat Si Kabayan seperti itu, jelaslah Si Kabayan bukan orang biasa. Walau citra Si Kabayan lebih condong ke hal negativ? Itu tergantung bagaimana mananggapinya. Artinya kalau Si Kabayan dianggap negativ, salah siapa diartikan ke hal negativ. Karena kalau dianggap ke hal yang positif, tentu saja citra Si Kabayan akan positif. Kesimpulannya, mari kita sama-sama manganggap Si Kabayan karena sifatnya yang bagus dan yakin dalam kebenaran, malah menjadi contoh bagi anak muda, generasi penerus sunda.

Categories: Kelas XI Tags:
  1. February 27th, 2010 at 15:11 | #1

    wilujeng sumping….. eh ngiring ngalangkung kang… :D

  1. No trackbacks yet.