DALEM BONCÉL (Tarjamahan dina Basa Indonesia)
TOKOH PAMAÉN
- Kangjeng dalem
- Ema Boncél (Indungna Kanjeng Dalem)
- Bapa Boncél (Bapana Kanjeng Dalem)
- Pangawal
- Istri Kanjeng Dalem
BABAK PERTAMA
HALAMAN RUMAH BESAR DAN MEGAH. RUMAH DALEM. MENGHADAPI MEJA PENUH DENGAN MINUMAN DAN MAKANAN. KANGJENG DALEM SEDANG MENIKMATI NIKMATNYA CAHAYA MATAHARI PAGI. SAAT ITU ADA YANG DATANG. YAITU SALAH SEORANG PENGAWALNYA. KANGJENG DALAM MENATAP TERHADAP YANG DATANG. SEPERTINYA AGAK TERGANGGU, YANG DITATAP CEPAT-CEPAT MENYEMBAH.
Pengawal (P): Hormat saya. Ada nenek-nenek dan kakek-kakek dari kampong, mengakunya orang tua dari kangjeng dalem, katanya ingin bertemu.
Kanjeng Dalem (KD): Kakek-kakek dan nenek-nenek dari kampung mengaku, orang tuaku, serta ingin bertemu?
P: Tidak salah lagi.
KD: Usir !
KAKEK KAKAK DAN NENEK NENEK MENDAHULUI MASUK. SETELAH MENELITI SI NINI INGIN CEPAT CEPAT MERANGKUL
Ema Boncel (EB): Boncel! Ternyata tidak disangka, kamu sudah menjadi orang. Menjadi Dalem. Ini ema Ocel. Dan juga ayah kamu (menarik tangan suaminya, dan terus merangkul).
MENYAKSIKAN KEJADIAN ITU KI PENGAWAL HANYA MERASA KASIHAN. KANGJENG DALEM MENAHAN RANGKULAN DARI SI NENEK SERTA MENDORONGNYA SAMPAI DENGAN TERJATUH.
KD: Pangawal, mengapa kamu malah melongo? Dua orang ini segera usir. Jika sudah ada di luar Tanya!, takut datangnya ke sini berniat untuk meminta. Berilah, kalau ada nasi sisa kemarin.
EB: (Bangun) Kamu pasti lupa sama Ibu dan Bapak, karena lama tidak jumpa. Namun, Ibu dan Bapak tidak akan lupa terhadap kamu. Walupun sudah banyak yang berubah, Ibu yakin kamu itu anakku. Betul kan bapak? (Bolak balik menatap suaminya dan kanjeng dalem), Ini anak kita Si Boncel.
Bapa Boncel: Bener, bener pisan!
EB: Nah itu (Menunjuk terhadap dagu Kangjeng Dalem), ada tandanya! Bekas kamu jatuh di dapuran kelapa. Bekasnya persis anak boncel. Karena itu oleh ibu dijuluki Si Boncel.
KD: Pengawal seret dua orang gila ini ke luar (menunjuk). Dari mana datangnya aku punya orang tua seperti itu. Masa ada dalem anak dari orang sembarangan.
PANGAWAL CEPAT-CEPAT MENGHAMPIRI IBU DAN BAPAK BONCEL. DUA DUANYA DISEREt KE LUAR. WALUPUN MENOLAK , HANYA TENAGA KAKEK-KAKED DAN NENEK-NENEK TIDAK BISA BERBUAT BANYAK
EB: Boncel kamu tega mengusir ibu dan bapak? Kamu itu anak Ibu bocel. Ibu yang menyusui kamu. Ibu yang mengurusi kamu. Tapi kenapa kamu tidak mengakui ibu? Malah menganggap ibu tukang baramaen dan orang kurang seueudan. Mentang-mentang sudah menjadi orang, menjadi dalem, merasa hina mengaku orang tua terhadap ibu bapak sendiri.
BB: Dosa kamu boncel pasti dosa. Utamanya dari ibu kamu. Rasakanlah akibatnya!
KD: Dosa dari mana datangnya. Aku tidak punya orang tua seperti itu. Dan juga orang tuaku sudah lama meninggal dunia. Ayo pengawal suruh menyingkir kakek-kekek dan nenek-nenek kurang seueudan.
IBU DAN BAPA BONCEL TERUS DISERET KE LUAR
BABAK KEDUA
DI DALAM RUMAH KANJENG DALEM. DI ATAS TEMPAT TIDUR KANJENG DALEM TERLIHAT SEPERTI ORANG YANG PAYAH. KERJAANNYA GARUK-GARUK SEPERTI SANGAT GATAL. SEPERTINYA SUDAH MERASA TIDAK KUAT DIA LONCAT DARI TEMPAT TIDUR. LALU GERUK-GARUK LAGI PERSIS SEPERTI KELAKUAN MONYET.
KD: Aduh ampun! Ateul! Ateul! Ieung Ateul! Nyai ka mana kamu nyai! Mana obat itu? Buru-buru bawa ke sini! Ini akang sudah tidak kuat! Gatal sekujur tubuh (terus garuk-garuk!
DATANGLAH SEORANG WANITA CANTIK YAITU ISTRINYA KANJENG DALEM. DINA TANGANNYA TERLIHAT ADA BOKOR BERISI RAMUAN. KANJENG DALEM LALU DIOBATI. TAPI JANGANKAN MENJADI SEMBUH, RASANYA MALAH BERTAMBAH PARAH.
KD: Ramuan apa ini? Tidak terasa! Kurang panas! Malah bertambah gatal (merebut bokor lalu dilemparkan)
IKD: Harus diobati apa lagi, ternyata tidak ada yang manjur. Takutnya bukan penyakit biasa.
KD: Apa maksudnya nyai bercerita seperti itu?
IKD: Betul, bukankah ini gara-gara ….. ?
KD: Gara-gara akang ngusur Nenek-nenek dan Kakek-kakek baramaen kurang seueudan?
IKD: Leres kitu tukang baramaen? Apakah benar mereka itu manusia kurang seuseudan? Takutnya benar mereka itu orang tua akang. Tapi, mungkin akang merasa malu, harus mengaku orang tua, karena fisikny yang hina.
KANJENG DALEM TERMANGU. TANGANNYA TETAP GARAK-GARUK
IKD: Sebenarnya akang tidak harus merasa malu. Apalagi merasa hina. Burung palung bagus jelek, ayah ibu tunggul rahayu, bapa pohonnya derajat. Tidak akan ada kita jika tidak ada mereka. Jika menurutku, mumpung masih ada, akang segera menyuruh ponggawa, untuk mengundang orang tua akang. Pasti sekarang mereka sedang meratapi kesedihan di kampung.
KANJENG DALEM LANGSUNG MENANGIS
KD: Menyadari aku berdosa kepada orang tua. Tidak akan nyai, akang tidak akan menyuruh orang lain. Antar oleh nyai, akang ingin pergi menemui Ibu dan Bapak. Akang akan meminta maaf. Akang ingin tobat.
IKD: (Imut) Hayu akang ku abdi di anteur (nuyun salakina nu tetep teu eureun-eureun gegeret)
BABAK KETIGA
RUMAH PANGGUNG JELEK. DI DEPAN, DISAKSIKAN OLEH ISTRI KANGJENG DALEM NYUUH DI LAHUNAN IBU BONCEL.; DARI JAUH TERDENGAH SUARA TEMBANG LAGU INDUNG.
Punten, seja ngiring nyarungsum supados anu lepat teu tepa ka para nonoman anu nuju diajar basa Sunda.
Dina naskah aya kalimah “kakek-kekek dan nenek-nenek kurang seueudan”. Dina eta kalimah aya kecap SEUEUDAN. Sakaterang, dina basa Sunda mah teu aya kecap seueudan, rupina nu dimaksad teh SAEUNDAN. Conto Ngalarapkeunana dina kalimah “KURANG SAEUNDAN, hartosna sami sareng kurang hideung atanapi gelo. Ieu kalimah ngandung panghina ka jalma anu dipikaceuceub atawa dipikangewa.
Hatur nuhun kana perhatosanana
Baktos
Ki Leuksa